Compang

COMPANG

Compang merupakan salah satu wujud kebudayaan fisik yang terdapat dalam tata ruang kehidupan Orang Manggarai. Dikatakan demikian, karena unsur compang terdiri dari seonggokan batu . Bentuk fisik compang itu tidak lahir dari dirinya sendiri tetapi lahir dari ide atau gagasan nenek moyang Orang Manggarai. Sehingga  compang pada akhirnya merupakan hasil karya Orang Mangarai. Karena itu, Keberadaan compang di tengah kolektivitas Orang Manggarai mempunyai arti yang diakui oleh seluruh Orang Manggarai wan koe etan tua (dari anak-naka sampai orang tua). Singkat kata dalam arti harafianya compang adalah tempat untuk mempersembahkan kurban kepada roh-roh alam dan Wujud Tertinggi dalam suatu upacara adat tertentu oleh Orang Manggarai

Unsur-unsur Compang

1. Batu

Salah satu unsur yang membentuk compang adalah batu. Batu-batu itu disusun sedemikian rupa sehinga membentuk sebuah bulatan. Di tengah bulatan batu yang tersusun itu terdapat sebuah batu ceper tempat untuk mempersembahkan kurban. Batu yang tersusun itu ada yang menyebutnya batu naga Ukuran batu yang tersusun, pada umumnya sangat besar dan tentunya sangat berat

2. Tempat Tinggal Naga Beo (naga kampung)

Orang Manggarai meyakini adanya roh kampung yang disebut naga beo. Naga itu diyakini tinggal di compang. Dalam diri roh itu memiliki sifat ganda. Di satu sisi memiliki sifat baik tetapi di sisi lain memiliki sifat jahat. Naga beo yang memiliki sifat baik berperan positif terhadap Orang Maggarai yaitu melindungi mereka dari berbagai korban peperangan, penyakit, berbagai bentuk mbeko janto (kekuatan magni hitam yang mematikan), bencana alam dan sebagiannya. Sedangkan Naga Beo yang memiliki sifat jahat berperan negatif terhadap Orang Manggarai misalnya dia akan mendatangkan penyakit, bencana alam, kematian waktu perang terhadap Orang Manggarai. Biasanya sifat jahat roh itu muncul ke permukaan dipicu oleh sikap Orang Manggarai yang menyimpang dari tatanan hidup bersama.

  1. Simbol Representasi Kekuatan Supranatural

Konsep animisme dan dinamisme mengantar Orang Manggarai pada pemahaman bahwa alam ini memiliki jiwa atau rohnya. Karena alam ini memiliki pejaganya (jiwa atau roh) maka alam ini berada dibawah kekuasaan roh-roh tersebut. Mereka yang menentukan dinamika alam ini misalnya mengatur turunya hujan, kesuburan tanah, menentukan hasil bumi dan sebagainya.

  1. Tempat Untuk Mempersembahkan Kurban

Compang berfungsi sebagai tempat persembahan tidak terlepas dari kesadaran Orang Manggarai akan keberadaan roh-roh supranatural. Roh-roh supranatural (Mori Kraéng dan roh-roh  penunggu alam) yang ada mengintervensi kehidupan mereka secara khusus segala usaha yang berhubugan dengan alam.  Karena itu, penting bagi Orang Manggarai membangun relasi harmonis dengan mereka. Relasi itu dibangun lewat kurban persembahan. Kurban persembahan berupa hewan seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu kerbau, babi, ayam, kambing, dan sebagainya. Di compang hewan yang ada dikurbankan dengan meneteskan darahnya dan menyimpan sebagian daging kurban di tempat itu. Karena hal yang ditekankan dalam konteks ini adalah kehadiran Mori Kraéng dan roh-roh alam maka persembahan yang ada terarah kepada mereka. Dengan persembahan itu, roh-roh itu diambil hatinya sehingga seluruh rencana Orang Manggarai atas alam mendapat restu dan berkat dari roh-roh yang ada. Dengan demikian, keberadaan compang sebagai tempat persembahan penting bagi Orang Manggarai supaya Mori Kraéng dan roh-roh alam mendukung, memberkati, merestui segala rencana mereka atas alam.

 

ALTAR IN MANGGARAIAN CULTURE

Compang is a form of physical culture that is contained in the spatial layout of the Manggarai people. It is said so, because the ragged element consists of a pile of stones. The physical form of the shattering was not born from itself but was born from the ideas of the ancestors of the Manggarai people. So that the Compang is ultimately the work of the Mangarai people. Therefore, the existence of Compang in the midst of the collectivity of the Manggarai people has a meaning, that is recognized by all the old Manggarai people (from children to the elderly). In short, in its literal meaning Compang, it is a place to offer sacrifices to natural spirits and the highest form in a certain traditional ceremony by the Manggarai people.

Compang Elements

1. Stone

One of the elements that make up rags is rock. The stones are arranged in such a way as to form a sphere. In the middle of the arranged stone circles there is a flat stone for offering sacrifices. Some of the stones that are arranged are called dragon stones. The size of the stones that are arranged are generally very large and of course very heavy

2. Residence of Naga Beo (village dragon)

The Manggarai people believe in a village spirit called the dragon parrot. The dragon is believed to live in rags. Within the spirit it has a dual nature. On the one hand it has good qualities but on the other hand has evil qualities. Dragon parrots that have good qualities play a positive role in the Maggarai people, namely protecting them from various victims of war, disease, various forms of mbeko janto (deadly black magic), natural disasters and some of them. Meanwhile, Naga Beo, who has an evil nature, plays a negative role in the Manggarai people, for example, it will bring illness, natural disasters, and death during war to the Manggarai people. Usually the evil spirit of the spirit comes to the surface, triggered by the attitude of the Manggarai people who deviate from their common life.

3. Symbols of Supernatural Power Representation

The concept of animism and dynamism has led Manggarai people to understand that this nature has a soul or spirit. Because this realm has a guardian (soul or spirit) then this realm is under the control of these spirits. Those who determine the dynamics of this nature, for example, regulate the fall of rain, soil fertility, determine crops and so forth.

4. A Place for Offering Sacrifices

Compang functions as a place of offering cannot be separated from the awareness of the Manggarai people of the existence of supernatural spirits. The supernatural spirits (Mori Kraéng and the spirit guardians of nature) that are present intervene in their lives especially in all endeavors related to nature. Therefore, it is important for the Manggarai people to build a harmonious relationship with them. This relationship is built through the sacrificial offering. The sacrificial offerings were in the form of animals as previously mentioned, namely buffalo, pigs, chickens, goats, and many more. In the rags, the animals were sacrificed by shedding their blood and keeping some of the sacrificial meat in that place. Because the thing that is emphasized in this context is the presence of the Mori Kraéng and the spirits of nature, the offerings are directed to them. With this offering, the spirits were taken by their hearts so that the whole plan of the Manggarai people for nature received the blessings and blessings of the spirits that existed. Thus, the existence of Compang as an important place of offering for the Manggarai people so that Mori Kraéng and the spirits of nature support, bless, and bless all their plans for nature.

 

by: Bergita Verlin