Natas

NATAS

Rumah gendang (mbaru gendang) merupakan salah ciri khas budaya Manggarai. Setiap bagian atau detail darinya memiliki arti dan makna tersendiri, baik dari luar maupun dari dalam mbaru gendang itu sendiri. Misalnuya natas. Natas merupakan pelataran atau halaman terbuka, dimana ditengahnya terdapat sebuah batu yang tersusun dalam bentuk lingkaran yang bersifat sacral. Batu ini disebut compang. Selain itu pada bagian depan terdapat pintu gerbang yang disebut paang. Disekeliling natas juga terdapat batu-batu yang disebut (like).

Dalam keseharian hidup orang Manggarai, natas menjadi tempat diskusi dan menjemur diri di pagi hari (dari leso). Pada zaman dahulu, warga di kampung sering kali berdiskusi atau berbincang-bincang di natas sembari menunggu matahari terbit, sebelum semuanya pergi menjalankan aktivitas masing-masing seperti ke kebun atau ke sawah.  Natas merupakan salah satu unsur yang ada dalam setiap kampung khusunya dalam area rumah gendang. Setiap kampung di Manggarai selalu memiliki Natas yang luasnya hamper setara dengan lapangan bola kaki. Sehingga dengan kondisi demikian natas memiliki banyak fungsi yang dapat membantu masyarakat. Misalnya, sebagai tempat untuk acara perkawinan (ndei kawing). Fungsi ini hampir tetap berjalan sampai sekarang semisal kalua ada yang hendak menikah dan akan dibangunkan kemah di natas tersebut. Sebagai tempat untuk bermain caci. Caci merupakan salah satu bentuk kesenian dalam budaya Manggarai, dan biasanya untuk menggelar acara tersebut akan diadakan di natas.  Natas juga biasanya menjadi tempat bermain anak-anak (osang labar data koe). Natas sering digunakan oleh masyarakat Manggarai sebagai tempat untuk melaksanakan upacara penti, caci dan sebagainya.

Salah satu fungsi natas yang juga tidak kalah penting adalah sebagai tempat dilaksanakannya upacara adat misalnya paki kaba (sembelih kerbau) pada saat pelaksanaan upacara congko lokap setelah membangun rumah adat. Natas bisa dijadikan ruang publik dimana tempat orang dari berbagai lapisan masyarakat berdiskusi ataupun bercerita. Dalam ruang publik ini semua warga kampung memiliki hak dan kebebasan untuk mengekspresikan diri, ide atau gagasannya. Pemahaman natas sebagai ruang publik berdasarkan kebebasan setiap warga kampung untuk terlibat dalam interaksi di dalamnya.

Dalam tatanan perkembangan sekarang, pembuatan rumah gendang sudah mulai dibumbui dengan gaya modern. Sehingga natas yang ada juga sudah hampir tidak sama seperti dulu. Hanya ada beberapa tempat atau mbaru gendang yang masih mempertahankan ciri dari natas situ sendiri. Misalnya, mbaru gendang Ruteng Pu’u, mbaru gendang Tado. Salah satu contoh natas yang memiliki ciri yang berbeda adalah Natas bagi desa Meler. Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa disisi natas biasanya terdapat batu yang tersusun, namun di Desa Meler, bukanlah susunan batu melainkan jalan setapak. Akan tetapi, hal ini tidak melunturkan fungsi dari natas itu sendiri. Anak-anak masih seringkali terlihat bermain di natas, kemah untuk acara perkawinan serta untuk upacara adat lainnya. Tetapi, dalam perkembangan sekarang, natas di hampir setiap daerah kehilangan perannya sebagai ruang publik. Dimana banyak orang bersikap individualistis sebagai dampak dari perkembangan modernisme.

 

NATAS

Mbaru gendang is one of the characteristics of Manggarai Culture. Each part of the Mbaru Gendang, has its own meaning either in the inside or outside of it.  One part of it that has its own meaning and functions is Natas.  Natas is an open courtyard in which there are stones arranged in a circle way that named compang. There is also a gate called paa’ang and around the natas there are stones named like.

In the past in Manggaraian daily life, Natas became a place for discuss or place for sunbathing in the morning (dari leso) while waiting for the sun before they run their activities like go to the garden or rice fields. Natas becomes one important unsure in each area in Manggarai. Natas is almost has the same size with football field. Because of that, Natas have many functions that help the society. As a place for a wedding ceremony (ndei kawing). This is still running until now, when someone want to get married and they will build tent around the area. As a place for playing caci (maeng caci) which is a one of the traditional dancing in Manggarai, and this event usually will be held in Natas. Natas also becomes place for children to play (osang labar data koe).  Natas is often used by the Manggaraian as a place to carry out penti, caci ceremonies and so on.

One of the important functions of natas is as a place for traditional ceremonies such as paki kaba (buffalo slaughter) during congko lokap ceremony after building a traditional house. Natas can be used as a public space where people discuss or tell stories. In this occasion all people in the vilage be able to express their feelings or idea. The concept of natas as a public space is according to their contribute in the interaction in it.

In the current situation, the making of mbaru gendang already begun to be embellished with modern style. Therefore, the existence of natas is almost not the same as before.  There are only a few places or mbaru gendang that still retain the characteristics of the natas. For example, mbaru gendang Ruteng Pu’u, mbaru gendang Tado. One example of natas which has different characteristics is Natas for Meler village. As previously discussed, there are usually arranged stones on the side of the hill, but in Meler village, it is not a stone arrangement but a path. However, this does not dissolve the function of the natas itself. Children are still playing in natas, tents for weddings and for other traditional ceremonies. However, in the current development, natas in almost every village has lost their role as a public space. Where many people are individualistic as a result of the development of modernism.

 

   by: Maria Bellarmini Eugenia Badun