Sawah Lodok (Spider Web Rice Field)

SAWAH LODOK

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan keindahannya. Keindahan Indonesia tidak terlepas dari alam yang terbentang, mulai dari pantai, gunung, hingga suasana persawahan. Salah satu persawahan di Indonesia yang sangat indah yaitu Sawah Lodok. Oleh karena keindahannya, Sawah Lodok menjadi salah satu tempat tujuan wisata oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Mengenal lebih jauh Sawah Lodok

Bagi masyarakat Manggarai keberadaan lahan pertanian merupakan suatu hal yang sangat penting. Masyarakat Manggarai mengenal pertanian sejak zaman di mana system kehidupan berburu yang nomaden, hingga berubah agraris dengan cara menetap berlaku. Pembagian lahan pertanian di Manggarai harus berdasarkan peraturan adat istiadat. Umumnya pembagian lahan di Manggarai disesuaikan dengan bentuk Lingko atau sistem lodok. Seperti halnya pembagian lahan sawah di Desa Meler dan sekitarnya.

Apa itu Lodok dan Lingko?

Lingko merupakan suatu istilah system pembagian sawah yang bermula dari titik tengah. Titik tengah tersebut disebut sebagai Lodok. Dari titik tengah itulah garis panjang akan ditarik menuju bidang terluar dari persawahan yang disebut dengan Cicing. Oleh karena itu, polanya akan terlihat kecil di bagian dalam dan besar di bagian luar. Pola tersebut lebih tepatnya mirip dengan jaring laba-laba.

Mengenal sistem Lodok

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Lodok dipahami sebagai pusat dari Lingko. Dalam pembagian lahan dengan sistem Lodok ada beberapa tokoh yang bertanggung jawab dan bertugas untuk membagi lahan. Tokoh-tokoh itu adalah “Tu’a Teno” dan “Tu’a  Panga”. Tu’a Teno bertanggung jawab dalam system Lodok. Tu’a Teno dipilih dari Tu’a Panga. Tu’a Panga merupakan seseorang yang paling tua dari satu wa’u atau keturunan. Tu’a Panga bertugas untuk membagi lahan.

Sebelum pembagian lahan dilakukan, biasanya akan diadakan suatu pertemuan. Pertemuan tersebut disebut dengan istilah “Reke Lodok” dan merupakan pertemuan awal sebelum pembagian lahan dilaksanakan. Dalam pertemuan ini salah satu hal yang akan dibahas adalah jadwal pembagian lahan. Biasanya rentang hari pembagian lahan dilaksanakan dengan pertemuan awal “reke” adalah 10 hari atau disebut dengan istilah “lu’ang”.

Berikutnya adalah pertemuan kedua. Biasanya pada pertemuan kedua salah satu hal yang akan dibahas adalah penentuan hak setiap panga untuk mengambil bagian dalam Lodok. Hal tersebut biasanya disebut dengan istilah “rembo”. Dalam tahap tersebut, biasanya panga sudah tahu keluarga-keluarganya yang membutuhkan lahan. Jika dalam proses pertemuan kedua ada seseorang dari luar “ata long” tetapi tinggal sekitar lahan yang akan dibagi dan berkeinginan untuk mengambil bagian dalam pembagian lahan, orang tersebut dianjurkan untuk mendekati Tu’a Teno dan diharuskan membawa persayaratan berupa ayam dan tuak.

Tahap berikutnya adalah prosesi menancapkan kayu ke lubang yang telah digali. Biasanya tahap ini disebut dengan istilah “Tente Teno”. Lubang tersebut persisi terletak di titik pusat lahan atau di pusat Lingko. Dari sanalah akan ditarik garis menuju bagian terluar dari suatu lahan “cicing”. Sebelum menancapkan kayu, Tu’a Teno berdoa terlebih dahulu, mengucap syukur kepada Tuhan dan kepada nenek moyang, dan memohon supaya diberi rezeki. Dalam doa tersebut, Tu’a Teno diwajibkan memegang sebutir telur ayam mentah. Selanjutnya telur ayam tersebut akan disimpan pada lubang, tempat dimana kayu akan ditancapkan. Setelah kayu ditancapkan, lubang akan kembali ditutup. Selanjutnya di sekitaran lahan akan ditancapkan “lance koe” atau kayu-kayu kecil. Pada kayu-kayu kecil tersebut akan diikat “wase” atau tali, dan jumlahnya disesuaikan dengan jumlah panga. Biasanya diluar kayu-kayu kecil tersebut akan dibuatkan “langang” atau garis-garis batas antar lahan.

Lokasi Sawah Lodok

Sawah Lodok terletak di Desa Meler, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak Sawah Lodok dari Ruteng adalah sekitar 16 kilometer. Sawah Lodok terlihat sangat indah dengan suasana pedesaan yang damai dan harmonis. Untuk menuju Sawah Lodok dapat menggunakan mobil dan motor. Jarak tempuh yang dibutuhkan adalah kurang lebih 45 menit dari Ruteng.

 

SPIDER WEB RICE FIELD

Indonesia is one country that is famous for its beauty. The beauty of Indonesia is inseparable from the natural landscape, from beaches, mountains, to the atmosphere of rice fields. One of the most beautiful rice fields in Indonesia is Spider Web Rice Field. Because of its beauty, Spider Web Rice Field has become a tourist destination for both local and foreign tourists.

Get to know more about Spider Web Rice Field

For the people of Manggarai, the existence of agricultural land is very important. The people of Manggarai have known agriculture since the era where the nomadic hunting system of life until changed to agrarianism by settling it into effect. The distribution of agricultural land in Manggarai must be based on customary regulations. Generally, the distribution of land in Manggarai is adjusted to the form of the Lingko or lodok system. As with the division of rice fields in Meler Village and its surroundings.

What are Lodok and Lingko?

Lingko is a term for a rice field division system that starts from the midpoint. The middle point is known as Lodok. From the midpoint, a long line will be drawn towards the outermost plane of the rice fields which is called Cicing. Therefore, the pattern will appear small on the inside and large on the outside. The pattern is more like a spider’s web.

Get to know the Lodok system

As previously mentioned, Lodok is understood as the center of Lingko. In the division of land using the Lodok system, several figures are responsible and tasked with dividing the land. The characters are “Tu’a Teno” and “Tu’a Panga”. Tu’a Teno is responsible for the Lodok system. Tu’a Teno is chosen from Tu’a Panga. Tu’a Panga is someone who is the oldest of one wa’u or descendants. Tu’a Panga is in charge of dividing the land.

Before the division of land is carried out, usually, a meeting will be held. The meeting was called the “Reke Lodok” and was the initial meeting before land distribution was carried out. In this meeting, one of the things that will be discussed is the schedule for land distribution. Usually, the range of days for land distribution is carried out with the initial meeting “reke” being 10 days or what is referred to as “lu’ang”.

Next is the second meeting. Usually at the second meeting, one of the things that will be discussed is determining the right of each party to take part in Lodok. This is usually referred to as “rembo”. At this stage, usually, panga already knows which families need land. If during the second meeting there was someone from outside the “ata long” but living around the land to be divided and wishing to take part in the distribution of land, that person is encouraged to approach Tu’a Teno and is required to bring the conditions in the form of chicken and tuak.

The next stage is the procession of stacking wood into the hole that has been dug. Usually, this stage is referred to as “Tente Teno”. The hole is precisely located at the center of the land or the center of Lingko. From there a line will be drawn towards the outer part of a “cicing” area. Before planting the wood, Tu’a Teno prayed first, gave thanks to God and the ancestors, and asked to be given sustenance. In this prayer, Tu’a Teno is required to hold a raw chicken egg. Then the chicken eggs will be stored in the hole, where the wood will be embedded. After the wood is plugged in, the hole will be closed again. Furthermore, around the land will be plugged “lance koe” or small wood. The “wase” or rope will be tied to the small pieces of wood, and the amount is adjusted according to the number of panga. Usually, outside of the small logs, a “langang” or boundary line will be made between the fields.

Location of Spider Web Rice Field

Spider Web Rice Field is located in Meler Village, Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province. Spider Web Rice Field distance from Ruteng is about 16 kilometers. Spider Web Rice Field looks very beautiful with a peaceful and harmonious rural atmosphere. To get to Sawah Lodok, you can use cars and motorbikes. The distance it takes is approximately 45 minutes from Ruteng.

 

by: Yohanes Tresno Kurnianto